0
Berikut ini adalah beberapa kata media yang sudah pernah melakukan peliputan dan melihat langsung serta menikmati keindahan dan aktivitas selama Belitung
jQuery UI Accordion - No auto height

NET TV : Island Hoping dan Explore Pulau Kepayang

NET TV :Island Hoping dan Explore Pulau Kepayang

Pulau Kepayang, Belitung. Merupakan salah satu pulau di Belitung yang wajib anda kunjungi jika berlibur di Belitung. Jika anda melakukan tour pulau/ island hoping wajib mampir ke pulau kepayang loh, jika belum ke sini maka anda belum ke pulau Belitung, :D.

Pulau kepayang memiliki beberapa akomodasi yang bisa menjadi pilihan anda untuk menikmati atmospir bahari Belitung. Cottage, Bungalow dan Safary Tent, bisa menjadi pilihan anda jika ingin bermalam di Pulau Kepayang, harganya juga sangat terjangkau. Paling banyak wisatawan yang menggunakan akomodasi di Pulau Kepayang dalah wisatawan Asing alias Bule bule :). 

Selain memiliki akomodasi untuk menginapa, pulau kepayang juga memiliki Resto "Kepayang Resto" jika anda ingin menyantap masakan Asli Belitung, maupun Sea food. 

Diluar fasilitas untuk penyokong dunia pariwisata diatas, pulau Kepayang ini sendiri fokus pada Konservasi lingkungan, sebagai bentuk kepedulian kepada alam. Adalah Planting Coral atau menanam Karang, dan konservasi Penyu. Yang di Pelopori oleh Bapak Budi Setiawan, dari Kelompok Peduli Lingkungan Belitung. 

Ingin lebih jauh mengenal pulau Kepayang, berikut ini dokumentasi dari acara Net TV dari program "Weekend List". Selamat menyaksikan.

www.Belitung.Travel. Operates ecotours, not only managing conventional tour packages but also specifically special interest tours such as: diving, snorkelling, jungle trekking, Tarsiers watching, outbound training and other tourism packages. Wisata edukasi belitung, ekowisata belitung, program adopsi lingkungan (penyu, karang), wisata minat khusus belitung.

Kompas.com : Di Belitung, Wisatawan diajak Melepas Tukik ke Pantai

www.internasiona.compas.com (Minggu, 29 April 2014)
KOMPAS.com - Ingin mengadopsi anak penyu atau tukik dan melepaskannya ke pantai? Datanglah ke Kawasan Penangkaran Penyu Pulau Kepayang di Kepulauan Belitung. Disana ada kesempatan buat wisatawan yang ingin melepaskan tukik ke pantai.

Pulau Kepayang yang dulunya lebih dikenal dengan Pulau Babi merupakan bagian dari wisata hope island di Belitung. Pulau lain yang bisa dikunjungi yakni Pulau Lengkuas, Pulau Burung dan Pulau Pasir. Dari Pantai Tanjung Kelayang, Belitung bisa dicapai hanya 20 menit dengan perahu nelayan.

Baru dua tahun pengelola Pulau Kepayang diserahi tugas melakukan penangkaran penyu di pulau yang banyak batu-batu granit besar ini. Suasana pulaunya masih banyak hutan dan pohonnya masih rimbun hijau. Tempat penangkarannya seperti bangunan barak yang dilengkapi kolam-kolam kecil terbuat dari semen untuk tempat pelestarian hewan penyu.

Kalau sudah waktunya dilepas tukik-tukik tersebut makan wisatawan bisa menghubungi pengelola Pulau Kepayang. Ketika penulis datang pada pertengahan bulan April 2012, tidak banyak tukik yang sedang dipelihara di tempat penangkaran. Karena awal tahun sebelumnya sudah dilakukan pelepasan raturan tukik ke pantai.

Kalau wisatawan ingin mengadopsi tukik tinggal membayar Rp 50.000 per ekor kepada pengelola dan pembeli bisa melepaskan tukiknya di pantai Pulau Kepayang dengan harapan setelah besar menjadi penyu, bisa kembali dan bertelur di Pulau Kepayang. Sayang ketika penulis mencoba akan mengapdosi tukik tidak bisa dilakukan karena air laut sedang surut sehingga acara pelepasan tukik tidak dapat dilakukan.

Bagi yang ingin bermalam untuk menikmati sunset dan sunrise, di  Pulau Kepayang juga tersedia bungalow dan cottage. Semua bungalow menghadap ke pantai dan terbuat dari rumah kayu. Ada juga fasilitas spot diving dan bagi pemula ada pelatih khusus pelatihan diving. Disini ombaknya sangat pelan hampir tidak ada gelombang sangat cocok buat diving.

Aktivitas yang bisa digunakan di pulau ini snorkeling, diving, outbound, serta lokasi pembelajaran tentang terumbu karang. Disini wisatawan juga bisa berjalan-jalan di sekeliling pulau diantara  batu-batu besar yang berserakan di seputar pulau.

Bagi penggemar fotografi, di pulau ini banyak spot-spot menarik yaitu batu-batu granit yang tinggi menyerupai gunung-gunung kecil diantara hutan yang masih perawan. Di bawah langit cerah yang berwarna biru berarak awan putih sangat kontras buat foto. Di pantainya banyak batu-batu karang  yang bertebaran berpencar aneka modelnya. Di waktu air laut surut, wisatawan juga bisa berjalan-jalan diantara batu-batu karang besar dan bisa menyeberang dengan berjalan kaki ke  pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Dari Pantai Tanjung Kelayang ke Pulau Kepayang bisa menyewa perahu nelayan. Setelah puas melihat penangkaran penyu disini, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Pulau Luangkuas, Pulau Burung dan Pulau Pasir yang memiliki hewan bintang laut.

Untuk kenyamanan pengunjung disini disarankan selalu memakai lotion anti nyamuk untuk pencegahan digigit serangga Faktor cuaca juga perlu diwaspadai.  Pada waktu hujan dan  petir, pengunjung juga disarankan untuk tetap berada di dalam cottage dilarang bermain di pantai untuk menghindari petir. Terbukti di Pulau Kepayang ini banyak terlihat pohon-pohon kelapa yang tertinggal batangnya saja karena bagian buah dan pelepah daunnya  hilang  tersambar petir


Dipublikasikan oleh: www.Internasional.kompas.com
Pada: Minggu, 29 April 2012 | 21:50 WIB
Belitung.Travel

Rakyat Pos : Tarsius Bancanus Saltator Primata Khas Babel Yang Hampir Punah

Rakyat Pos : Tarsius Bancanus Saltator Primata Khas Babel Yang Hampir Punah

Rakyat Bangka Belitung, terutama yang berdomisili di perdesaan tentu mengenal hewan langka jenis Mentilin. Hewan itu bernama latin Tarsius Bancanus Saltator atau Horsfield’s Tarsier. Primata ini hanya tersebar di Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Monyet purba ini dipanggil “mentilin” oleh masyarakat Bangka, sedangkan di Belitung dipanggil dengan nama “pelilean”.

Sejatinya, Tarsius termasuk dalam primata yang dilindungi di dunia karena populasinya yang sedikit dan terancam punah. Dari survey IUCN Species Survival Commission bekerja sama dengan International Primatologi Society (IPS) dan Conservation International (CI) edisi 2008-2010, populasi Tarsius ini kurang dari 1.000 ekor.

Panjang tubuh monyet purba ini sekitar 12-15 cm dengan berat sampai 128 gram. Aktifitas monyet purba ini biasanya dilakukan di malam hari karena primata ini termasuk hewan malam.

Tarsius biasanya tinggal di kanopi daun pohon-pohon di hutan, keberadaanya menempel di pohon sepandangan mata manusia. Hasil penelusuran Rakyat Pos di Hutan Batu Mentas Belitung, primata ini tergolong hewan yang agresif jika merasa terganggu. Deerah teritorial Tarsius jantan sampai 1 hektar hutan sedangkan Tarsius betina sampai 2 hektar.
Yang menarik dari primata ini, Tarsius bisa memutar kepalanya sampai 360 derajat. Tarsius juga memiliki selaput pada jari-jarinya yang bisa membuat primata ini bisa menempel berjam-jam bahkan berhari-hari di pohon.

Selain itu, Tarsius Bancanus ini tergolong primata yang setia pada pasangannya. Penelitian ini pernah dilakukan oleh Budi dari Kelompok Peduli Lingkungan Belitung yang mencoba untuk mengawinkan primata ini dengan tarsius yang bukan pasangannya. Alhasil perkawinan gagal, sang Tarsius betina meninggal karena dampak psikologi oleh Tarsius laki-lakinya.

Cara berkomunikasi primata ini juga tergolong unik. Tarsius berkomunikasi menggunakan gelombang ultrasonik karena ia merupakan primata yang total tidak mempunyai suara. Tarsius tergolong Insectivora atau pemakan serangga. Cara berburu hewan ini adalah dengan melompat dari pohon ke pohon lain, kemudian menggigit mangsanya (serangga) yang sedang tidur karena Tarsius beraktifitas di malam hari saat serangga sedang tidur.

“Kita bisa menemukan primata ini tersebar di hutan Pulau Belitung, namun polulasi terbanyaknya ada di Hutan Batu Mentas Belitung. Tetapi untuk bisa menemukan primata ini harus dengan pengorbanan dan keberanian karena kita harus masuk hutan di malam hari dengan resiko yang tinggi,” kata Budi.

Dipublikasikan oleh: Rakyat Pos
Pada: 15-02-2014
Belitung.Travel

En.Tempo.co :Tarsier'Haven in Batu Mentas

En.Tempo.co : Tarsier'Haven In Batu Mentas ( 01 November 2013 )

TEMPO.CO, Belitung - The small creatures, measuring just 10-15 centimeters in height, perched on tree branches in the depths of Batu Mentas forest at the foot of Mount Tajam in Badau district, Belitung Island. Their huge eyes, disproportional to their bodies and capable of rotating 180 degrees, stun visitors. The animal is the tarsier, a primate of the Tarsiidae family. 

Visitors to this ecotourism site must walk two kilometers from the main road into the forest for a glimpse of the nocturnal animals. So far 3,000 tourists, both domestic and foreign, visit the place each month. 

Tarsiers can be found on some of large islands, namely Tangkoko in Sulawesi or Bohol in the Philippines. However, the species Tarsius Bancanus Saltator is endemic to Belitung. Though locals have long known of their presence, it was only in 2006 that scientists began conducting research on the animals. 

By that time only around 3,000 tarsiers were left in the forest. Two years later, the International Union of Conservation of Nature (IUCN) registered the tarsier as an endangered animal. 

The tarsier population has shrunk due to diminishing forest areas. Aggressive tin mining has robbed them of their habitat. Superstition has also played a role: locals believe they bring bad luck. If a hunter comes upon the creature, they think, he will end up going home empty handed. Locals shoot tarsiers down when they meet them in the forest. 

Budi Setiawan, head of the Belitung Environment Care Group (KPLB), said locals had dubbed the tarsier 'ghost monkey' due to the its enormous eyes that turn red in the light at night. 

"That scares people who come upon them in the forest after dark," the 37-year-old explained.

The old notion that tarsiers bring bad luck has also faded. "The fear has never been proven, so people stop believing it. They also stop shooting the animals after they realize that they can benefit from the creatures," said Rosiah, one of the locals. In fact, if people see tarsiers in their area, they quickly contact the KPLB to offer their services as a guide. 

When someone catches a tarsier, they give it to the menagerie in exchange for Rp75,000. 

"Due to the lack of data, it's difficult to establish tarsiers' mortality rate. But with the change in the public's mindset, the numbers are surely dropping," Budi said. 

With all the benefits the ecotourism site has brought the locals, the government has gotten involved. Officials built new roads, pruned up the locals' plantation and helped promote the site. 

Monthly revenues from the site hover around Rp30 million, excluding revenues from lodging, out of which 20 percent is used for conservation activities. 

KPLB Coordinator for Community Empowerment Ade Afrilian still hopes to attract more visitors. He dreams of establishing a wildlife sanctuary. "We don't want the place to be just a tourist destination, but a safe haven for tarsiers," he said. 

The complete version of this article is also available in the October 29 to November 4 edition of Tempo English magazine.  

Dipublikasikan oleh: en.tempo.co
Pada: FRIDAY, 01 NOVEMBER, 2013 | 21:00 WIB
Belitung Adventure Tour and Travel. Operates ecotours, not only managing conventional tour packages but also specifically special interest tours such as: diving, snorkelling, jungle trekking, Tarsiers watching, outbound training and other tourism packages. Wisata edukasi belitung, ekowisata belitung, program adopsi lingkungan (penyu, karang), wisata minat khusus belitung.

Edi Ginting : Berburu Tarsius Di Batu Mentas

Edi Ginting Via Ediginting.com : Berburu Tarsius di Batu Mentas

Saya baru pertama kali melihat hewan yang bernama Tarsius ini. Matanya besar dan menghadap ke depan seperti mata burung hantu. Tubuhnya kecil dan serangga menjadi makanan favoritnya. Kaki belakangnya panjang seperti katak, sehingga ia mampu melompat sangat jauh dari batang pohon ke batang pohon lain. Panjang ekornya bisa mencapai 30 cm dan ramping seperti ekor tikus. Bulunya lembut dan biasanya berwarna cokelat. Sama seperti burung hantu, hidup tarsius lebih banyak pada malam hari, atau nokturnal.

Pengalaman pertama saya melihat hewan primata ini terjadi ketika saya mampir ke Batu Mentas, sebuah kawasan wisata alam di Pulau Belitung. Distinasi wisata ini menjual keindahan alam Belitung yang masih hijau dengan hutan yang masih lebat, serta sungai sangat jernih di tengah kawasan yang mengalir dari Gunung Tajam. 

Letak Batu Mentas persisnya berada di kawasan hutan lindung Dusun Kelekak Datuk, Kecamatan Badau, sekitar 30 km dari pusat Tanjungpandan. Sangat mudah mencapainya, apalagi dari Bandara HAM Hanandjoedin. Jalan aspal yang sangat mulus akan kita lewati saat menuju ke tempat wisata ini. Hanya ada sekitar 50 meter jalan masih berupa tanah merah yang harus dilalui hingga depan pintu masuk Batu Mentas. 

Berdasarkan penelitian, kawasan hutan di sekitar Batu Mentas menjadi habitat hidup tarsius sejak dulu. Entah bagaimana hewan kecil yang sekilas mirip kera ini, bisa ada di kawasan hutan ini. Padahal, sejumlah literatur menyebutkan Kalimantan adalah habitat asli tarsius. 


Gampang-gampang susah untuk menemui tarsius di habitat aslinya di kawasan hutan lindung ini. Pengelola Batu Mentas sebenarnya sudah memetakan kawasan hutan di sekitarnya yang menjadi habitat hewan ini. Bahkan, jalur-jalur safari 'memburu' tarsius sudah dibuat yang membelah kawasan hutan. Tapi, tidak ada jaminan Anda akan pasti bertemu tarsius kalau menyusurinya.

Begitu juga dengan saya yang tertarik untuk ikut 'perburuan' tarsius pada malam hari. Selama dua jam lebih saya ikut sebuah rombongan masuk ke dalam hutan belantara yang cukup lebat. Suara serangga malam sangat jelas terdengar di tengah bulan nyaris sempurna yang sesekali terlihat di balik pepohonan. Namun, apa daya, walau badan sudah sangat lelah, tarsius yang kami cari-cari tetap tidak menampakkan diri.


Untuk mengobati rasa penasaran, saya akhirnya masuk saja ke tempat penangkaran dan penelitian tarsius yang ada di salah satu sudut Batu Mentas. Saya pun dapat melihat langsung wujud hewan insektivora yang kepalanya bisa diputar 180 derajat ini. Menyenangkan sih, walau pastinya akan lebih seru kalau saya bisa melihatnya langsung di alam bebas.

Kawasan Wisata Batu Mentas dikelola oleh Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB). Tempat ini menjual rindangnya pepohonan lengkap dengan sungai sangat jernih yang mengalir di tengahnya. Sekilah, Batu Mentas mirip dengan Taman Cibodas di Bogor, Baturaden di Banyumas, Sembahe di Medan, dan sejumlah tempat wisata lain yang menjual keindahan hutan dan sekaligus sungai.


Beragam aktifitas bisa dilakukan, misalkan saja, berenang atau berendam di air sungai yang sangat jernih dan segar, trakking hingga ke puncak bukit, menyusuri sungai yang melewati punggung-punggung bukit, atau menyewa ban untuk rafting kecil-kecilan mengikuti arus sungai. Jangan takut kelaparan, karena ada warung di dalam areal Batu Mentas dengan menu kecil-kecilan dan harga yang sangat terjangkau.


Batu Mentas juga bisa dipakai untuk tempat camping. Atau, kalau ada dana lebih, pengelolanya menyediakan penginapan berupa rumah pohon. Ada beberapa rumah panggung dibangun di tengah hutan dengan dinding dari bahan sejenis terpal. Tempat tidur juga dilengkapi dengan kelambu khusus agar nyamuk tidak mengganggu saat tidur. Menginap di rumah ini akan memberikan pengalaman bagi siapa saja untuk mendapatkan sensasi seperti tokoh tarzan yang tinggal di tengah hutan.

Tertarik? Silahkan mampir ke Batu Mentas ketika traveling ke Belitung.

Saya menginap satu malam di Batu Mentas. Satu hari satu malam berada di tengah hutan Pulau Belitung memberikan pengalaman lain untuk saya. Hati saya langsung resah tatkala membayangkan berbagai jenis pohon rindang di sini akan habis oleh penambangan timah seperti di belahan Belitung lainnya. Semoga saja tidak terjadi.

Dipublikasikan oleh: Edi Ginting via Ediginting.com
Pada: 12/13/2012 06:38:00 PM 
Belitung Tour and Travel. Operates ecotours, not only managing conventional tour packages but also specifically special interest tours such as: diving, snorkelling, jungle trekking, Tarsiers watching, outbound training and other tourism packages. Wisata edukasi belitung, ekowisata belitung, program adopsi lingkungan (penyu, karang), wisata minat khusus belitung.

National Geographic Note KPLB : Ribuan Karang Ditanam Saat Coral Day

National Geographic Note KPLB : Ribuan Karang Ditanam Saat Coral Day ( 01 Mei 2011 )


Belitung - Ribuan stek karang telah berhasil ditanam di daerah Tanjung Kelayang, perairan Pulau Belitung pada saat Coral Day 2011, Sabtu (30/4). Aksi ini merupakan upaya untuk menyelamatkan terumbu karang di wilayah tersebut.

Belitung, seperti diungkapkan oleh Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB), mulai menghadapi ancaman kelestarian ekosistem terumbu karang yang sudah terjadi di Bangka. "Kami tidak ingin apa yang terjadi di Bangka terjadi juga di Belitung," ujar Budi Setiawan dari KPLB.

Selain penanaman ribuan stek karang oleh ratusan penyelam dan sukarelawan, juga digelar acara-acara seperti pendidikan lingkungan hidup untuk anak-anak, lomba menggambar, festival layang-layang, pelepasan tukik, penyerahan bendera pelangi oleh anak-anak pemain Laskar Pelangi, penanaman karang hasil adopsi untuk membuat kebun koral, serta pembentangan bendera pelangi di dasar laut oleh penyelam.

“Coral Day ini bukan perayaan semata. Coral Day ini merupakan hari di mana semua orang bisa berkontribusi dalam bentuk apa pun," kata ketua pelaksana Coral Day 2011 Ery Damayanti. Ia mengharapkan Coral Day menjadi pengingat bagi semua orang untuk ikut serta berpartisipasi melakukan gerakan penyelamatan terumbu karang.

Coral Day 2011 tidak hanya dilakukan di Pulau Belitung, tetapi juga dilaksanakan di Kepulauan Seribu, Kendari dan lokasi lainnya. (Arief Sujatmoko)

Note:
Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB)
Dipublikasikan oleh; National Geographic
Pada: 01 Mei 2011
Belitung.Travel

Posting Komentar Blogger

 
Top