0


Tepat menghadap ke Pulau Lengkuas yang dikenal dengan mercusuarnya, Pulau Kepayang menjanjikan tempat kontemplasi yang sempurna bagi tubuh dan jiwa. Di pulau yang menjadi pusat konservasi penyu sisik dan terumbu karang  ini, Anda bisa menyaksikan sunset yang mempesona sembari bersantai di restoran atau berenang di bawah guyuran cahaya senja.

Setelah kurang tidur beberapa hari akibat tumpukan deadline dan keletihan yang memuncak dikarenakan perjalanan panjang, tubuh saya pun meronta untuk segera di istirahatkan. Namun ajakan seorang kawan di suatu pagi untuk mengunjungi Pulau Kepayang sangat sayang jika dilewatkan. Lagipula ini hari kedua saya berada di Belitung, masak saya memilih untuk beristirahat di kamar dibandingkan dengan bersenang-senang? Meski mata masih mengantuk, saya pun segera mengemasi baju ganti ke dalam ransel. Bergegas saya masuk ke jeep tua yang telah menunggu di depan.
Menghabiskan 20  menit berkendara dari  Tanjung Pandan melewati jalan aspal yang sangat mulus, kami pun tiba di Pantai Tanjung Kelayang yang terletak di Kecamatan Sijuk, Belitung. Pantai yang pernah dijadikan sebagai lokasi sandar yatch dalam acara Sail Indonesia 2011 ini menjadi titik awal penyeberangan ke Pulau Kepayang. Sebuah perahu kayu tradisional yang akan mengantarkan kami telah menanti di dermaga.
Di sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan yang memanjakan mata. Mulai dari pantai berpasir putih, air laut yang biru jernih, hingga jajaran batu granit yang tegak menantang langit. Granit beraneka ukuran itu tersebar di beberapa titik, membentuk gugusan yang unik sehingga terlihat seperti kepala burung, penyu, kepala hiu, bahkan layar kapal yang terkembang. Bentuk-bentuk tersebut lantas disematkan menjadi nama bebatuan. “Itu batu garuda, terus yang sebelah sana batu malang penyu,” jelas nahkoda perahu, Bang Asro.
Kurang dari 20 menit pelayaran mengarungi perairan dangkal barat daya Belitung,  perahu kecil kami pun merapat di Kepayang. Jajaran batu granit, pohon kelapa, pohon ketapang, dan tulisan “Welcome to Kepayang Island” yang terpaku di sebatang pohon terlihat dengan jelas. Saya pun bergegas melompat dari atas kapal, tak sabar untuk segera mengeksplorasi pulau kecil seluas 14 hektar tersebut.
Rasa kantuk dan letih segera dinafikan begitu menjejak di pulau yang lebih dikenal dengan nama Pulau Babi ini. Tepat di depan restoran terdapat sebuah teluk kecil yang dipenuhi batu granit di kedua sisinya. Sedangkan jauh di depan terlihat menara suar Pulau Lengkuas yang berdiri dengan gagah. Sejauh mata memandang terlihat laut jernih nan tenang. Beragam warna membalur, mulai dari hijau muda, hijau, biru muda, biru, hingga biru tua. Sekitar 200 meter di sisi kanan tempat saya duduk terlihat Pulau Tukong. Jika air laut sedang surut, kita bisa berjalan kaki dari Pulau Kepayang menuju pulau kecil tersebut.
Dulunya, pulau yang sering menjadi tempat bertelur penyu sisik (Eretmochelys imbricata) ini merupakan pulau tak berpenghuni. Berhubung penyu sisik termasuk jenis penyu yang terancam punah, oleh Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB) yang dipimpin Budi Setiawan pulau ini dijadikan sebagai basecamp penelitian dan kawasan konservasi penyu dan juga terumbu karang. Pada tahun 2009, oleh Belitung Adventure Pulau Kepayang dikembangkan menjadi lokasi wisata ekologi dan edukasi yang dilengkapi dengan dive center, restoran, cottage, dan penginapan dengan tarif bakcpaker.
Sebagai kawasan konservasi, di pulau ini terdapat tempat penetasan telur dan penangkaran penyu. Telur-telur yang ditemukan oleh pengelola dikumpulkan menjadi satu, kemudian diletakkan di lokasi khusus. Setelah menetas, tukik tersebut dimasukkan ke dalam kolam penangkaran dan akan dilepas kembali ke laut ketika sudah mencapai usia minimal 3 bulan.
Siapapun  yang berkunjung ke pulau ini dapat turut serta dalam program pelestarian penyu maupun terumbu karang. Dengan membayar Rp 50.000, Anda bisa mengadopsi tukik dan melepaskannya di pantai atau menanam stek coral di laut. Dana tersebut akan dipergunakan untuk melanjutkan misi konservasi.
Puas menyaksikan penyu dan mengitari sebagian kecil pulau untuk memotret, saya pun di ajak untuk snorkeling. Ini adalah pengalaman pertama saya berkenalan dengan dunia bawah laut. Maklum, selama ini saya lebih sering berkutat dengan halimun gunung maupun lembabnya lorong gua. Jujur saat melihat laut luas saya merasa sedikit takut. Saya tidak bisa berenang dan saat terakhir bermain di Pantai Parangtritis hampir terseret ombak.
Melihat saya yang tidak kunjung memakai peralatan snorkeling dan menceburkan diri ke laut, Ade Afrilian, kawan saya sekaligus salah satu anggota KPLB dan pengelola Belitung Adventure datang mendekat. Dengan nada jahil dan menggoda dia berujar “Biasa naik gunung dan turun gua masak nggak berani snorkelling? Coba dulu aja berenang ke batu di depan itu. Di dalam sana ada yang bagus.”
Okay, rupanya Ade menantang sekaligus mengiming-imingi saya. Akhirnya saya pun mencoba menceburkan diri ke laut yang tenang. Awalnya sempat kagok ketika memakai fin dan snorkel. Maklum ini pengalaman pertama. Namun lambat laun mulai terbiasa. Saya pun berenang agak ke tengah, menuju titik dimana ada batu granit yang menjulang ke permukaan laut yang ditunjukkan oleh Ade.
Selama ini saya lebih karib dengan stalagmit dan stalagtit, serta ornamen gua yang lain. Fauna yang terlihat pun berkutat pada laba-laba, kelelawar, ular, dan serangga lainnya. Tapi kali ini saya melihat pemandangan yang berbeda. Ikan-ikan beraneka warna berenang dengan lincah, seolah mengajak saya menari bersama. Deretan rumput laut, lamun, dan terumbu karang turut menghiasi dasar laut. Walaupun kondisi gugusan terumbu karang tidak segemerlap dan seindah yang saya bayangkan, tapi sensasi snorkeling di antara batuan granit menjadi pengalaman tak terlupakan.
Selain menyediakan perlengkapan snorkeling, di Pulau Kepayang ini juga terdapat penyewaan kano dan peralatan selam. Meski belum mahir atau bahkan belum bisa menyelam, kita bisa mengikuti paket penyelaman untuk pemula dengan lokasi penyelaman di sekitar pantai. Sedangkan bagi yang sudah mahir bisa menyelam di perairan antara Pulau kepayang dan Pulau Lengkuas dimana terdapat bagkai kapal tenggelam (wreck). Konon, sensasi diving di antara batuan granit hanya bisa ditemukan di perairan Belitung dan di Kepulauan Seychelles
Usai berenang di antara batuan granit, menyelam, atau bermain kano, kita bisa menikmati aneka menu makanan yang disajikan di restoran Pulau Kepayang. Sembari bersantap, kita bisa menikmati lanskap pantai yang indah dan sunyi. Tak ada riuh tawa anak-anak ataupun deru bising kendaraan.Hanya ada derik serangga, desau pucuk-pucuk pohon yang tertiup angin, alunan ombak, serta suara perahu nelayan yang bergerak di kejauhan. Saya benar-benar merasa berada di pulau dan pantai pribadi. Semua terasa begitu tenang dan melenakan jiwa.
Tanpa terasa saya telah menghabiskan hampir 8 jam bersenang-senang di Pulau Kepayang. Sejatinya saya tertarik untuk menikmati senja di pulau ini, sebab dari beberapa foto yang ditunjukkan Ade, senja di Kepayang sangatlah mempesona. Langit dan laut bertabur cahaya jingga keemasan dan matahari tampak bulat sempurna di atas mercusuar Pulau Lengkuas sebelum akhirnya tergelincir di batas cakrawala. Namun sayangnya sore itu langit muram sehingga senja tidak terlihat. Meski begitu saya tidak menyesal.
Saya berjanji suatu saat akan kembali ke pulau ini. Tak hanya untuk 8 jam, namun untuk dua atau tiga hari. Bukankah mendirikan tenda di tepi pantai sembari menikmati taburan bintang dan gelak sahabat di malam hari terdengar menarik? Ya, saya pasti akan datang kembali untuk melakukan itu semua.

Pernah dimuat Pada :
Tabloid Prioritas

Dipublikasikan oleh:
Elisabeth Murni (Yogyakarta) 
elisabeth.murni@gmail.com
Pada : ranselhitam.com
Belitung Tour and Travel. Operates ecotours, not only managing conventional tour packages but also specifically special interest tours such as: diving, snorkelling, jungle trekking, Tarsiers watching, outbound training and other tourism packages. Wisata edukasi belitung, ekowisata belitung, program adopsi lingkungan (penyu, karang), wisata minat khusus belitung.

Posting Komentar Blogger

 
Top